Pariwisata Berkelanjutan Butuh Pertanian Berbasis Kearifan Lokal
DENPASAR – Kalangan industri pariwisata mengakui keberadaan
pertanian berbasis kearifan lokal diperlukan untuk mendukung pariwisata
berkelanjutan. Kolaborasi antara pertanian dan pariwisata yang baik di satu
sisi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, tapi di sisi lain tidak merusak alam.
“Pariwisata yang berkelanjutan adalah harapan kita. Pertanian
berbasis kearifan lokal dibutuhkan untuk mendukung pariwisata berkelanjutan,”
kata praktisi pariwisata Tjokorde Oka Ardhana pada Seminar Pertanian Berbasis
Kearifan Lokal Mendukung Pariwisata Budaya Berkelanjutan di Hotel Santika,
Kuta, Bali, Minggu (30/10). Seminar ini diselenggarakan Himpunan Alumni IPB
Bali bekerja sama dengan Career Development & Affair (CDA) IPB dan
Konsorsium Riset Pariwisata Universitas Udayana.
Tjok Oka Ardhana yang kerap disapa Cok Ace mencontohkan
Jatiluwih, sebuah destinasi wisata yang berbasis pertanian dan tidak
meninggalkan kearifan lokal. Jatiluwih adalah sebuah desa yang mempunyai daerah
hamparan persawahan luas dengan panorama sawah bertingkat yang indah. Terkenal
sebagai tempat wisata dengan keindahan sawah terasering yang masih menggunakan
sistem pengairan sawah tradisional Bali, “Desa wisata ini baru dibuka tahun
2012, tapi sudah mampu menghasilkan Rp 34 miliar per tahun,” ujarnya.
Sumber : http://jatiluwih.id/home/?page_id=159
Praktisi pariwisata Bagus Sudibya menyarankan agar praktisi
pertanian tidak hanya sekadar memikirkan kuantitas produksi, tapi perlu
memperhatikan aspek lain yang bisa meningkatkan nilai tambah. Misalnya anggur,
kalau dijual dalam bentuk buah anggur segar mungkin harganya hanya Rp 50.000
per kilogram. Sedangkan jika diolah menjadi minuman anggur (wine), harganya
bisa berlipat menjadi Rp 300.000 per 500 ml.
Selain berinovasi untuk menghasilkan produk unggulan dan produk
bernilai tambah, juga perlu diperhatikan tren konsumen global. Misalnya, tren
masyarakat mengkonsumsi produk organik. Produk pertanian organik akan dibeli
dengan harga lebih mahal.
Menurut Bagus Sudibya, pertanian di Bali awalnya merupakan
pertanian organik. Namun, perkembangan yang mengarah pada penggunaan
unsur-unsur anorganik membawa pengaruh kurang baik terhadap lingkungan dan
kesehatan. “Penggunaan bahan-bahan kimia dalam pertanian menimbulkan dampak
buruk terhadap kesehatan,” ujarnya.
Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung I Gusti
Sudaratmadja membenarkan pentingnya memperhatikan aspek budaya dan pariwisata
dalam pengembangan pertanian di Bali. Ia mencontohkan penyelenggaraan Festival
Budaya Pertanian (FBP) di Badung Utara. Festival itu berhasil menjadi media
advokasi, promosi dan transaksi bisnis hingga Rp 8,2 miliar.
Tak dapat dipungkiri, pengembangan pertanian di Bali memang
perlu disinergikan dengan unsur budaya dan industri pariwisata. Tanpa itu,
sulit mengharapkan pertanian di kawasan ini bisa memberi nilai tambah kepada
petani dan mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Menurut Cok Ace, ada tiga kendala utama dalam upaya revitalisasi
pertanian di Bali. Pertama, adanya pandangan dari masyarakat yang memberi label
bahwa petani identik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kemiskinan,
kemunduran, kotor, dan berorientasi pada masa lampau. Kedua, adanya persepsi
pengusaha yang mengidentikkan pertanian sebagai produsen, sehingga pertanian
secara ekonomi dianggap kurang menguntungkan. Ketiga, pandangan pemerintah yang
masih terpaku pada pencapaian target peningkatan kualitas pertumbuhan PAD,
bukan berorientasi pada pemerataan.
Selama ini, banyak keluarga petani meninggalkan pekerjaan
sebagai petani dan memilih untuk mencari peruntungan di industri pariwisata
karena merasa penghasilan dari bertani jauh lebih rendah dari pada penghasilan
di sektor pariwisata. Ditambah lagi dengan kian menyusutnya lahan pertanian.
Di Kabupaten Badung, misalnya, selama 5 tahun terakhir terjadi
alih fungsi lahan rata-rata 10 hektare per tahun. Saat ini, luas lahan
pertanian di Badung sekitar 330 hektare. Salah satu penyusutan lahan paling
parah terjadi di kawasan Kuta Utara.
Meski begitu, Bagus Sudibya menilai prospek pengembangan
pertanian di Bali masih sangat menjanjikan. “Dengan catatan jumlah wisatawan
mancanegara 4 juta orang, ditambah dengan penduduk Bali sendiri, kebutuhan
produk pertanian cukup besar. Sekarang saja, kita banyak mendatangkan produk
dari luar,” ujarnya.
Untuk menarik wisatawan dan pembeli produk pertanian, terkadang
perlu terobosan. Cok Ace yang mantan Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran
Indonesia) Bali itu memberi contoh Walikota Batu Eddy Rumpoko yang berani
membuat branding Kota Wisata Batu (KWB). Dalam model pengembangannya, kota yang
terkenal dengan buah apelnya itu mencoba menarik orang sudah hadir ke kota itu.
Kemudian, pertanian mengikuti, termasuk pengolahan hasil pertanian, seperti
oleh-oleh manisan buah, kripik buah, dll. “Dibuat juga kerjasama dengan Jatim
Park. Ini merupakan contoh sinergi pariwisata-pertanian yan berbasis pada
keunggulan lokal,” ujarnya.
Oleh: Komang Darmawan
/ KD
Tanggal : Senin, 31 Oktober
2016 | 23:30 WIB
Sumber : http://www.beritasatu.com/food-travel/396420-pariwisata-berkelanjutan-butuh-pertanian-berbasis-kearifan-lokal.html
Putri Adining Tyas
16/398852/PN/14823
Putri Adining Tyas
16/398852/PN/14823

Dalam artikel ini terdapat nilai-nilai penyuluhan yaitu:
BalasHapus1. Adanya sumber teknologi atau ide yaitu sistem pertanian berbasis kearifan lokal
2. Adanya sasaran yaitu praktisi pertanian sebagai orang-orang yang diberi gagasan atau ide
3. Adanya manfaat yaitu dengan adanya kolaborasi antara pertanian dan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan masyarakat namun tidak merusak alam.
4. Adanya nilai pendidikan yaitu mencari inovasi-inovasi baru dan juga mengembangkannya untuk menghasilkan produk unggulan dan produk bernilai tambah yang perlu memperhatikan tren konsumen global.
Selain dari nilai penyuluhan terdapat pula nilai-nilai berita dalam artikel ini, nilai-nilai tersebut yaitu:
1. Proximity, dari artikel tersebut bersifat dekat dengan petani karena membahas mengenai lahan persawahan untuk pariwisata berkelanjutan yang membutuhkan peran petani di dalamnya
2. Importance, dari artikel ini mengandung informasi yang dibutuhkan oleh petani yaitu untuk memberdayakan atau mengembangkan lahan pertanian sebagai tempat pariwisata sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat namun juga memperhatikan aspek lingkungan.
3. Development, berdasarkan dari artikel tersebut berkaitan dengan pengembangan sektor pertanian dan pariwisata berbasis kearifan lokal
4. Conflic, permasalahan yang dibahas dalam artikel iniadalah banyak keluarga petani yang meninggalkan pekerjaan sebagai petani dan memilih untuk mencari peruntungan di industri pariwisata karena merasa penghasilan dari bertani jauh lebih rendah dari pada penghasilan di sektor pariwisata. selain itu juga kian menyusutnya lahan pertanian.
Isna Maulina
16/398848/PN/14819